Pernah mendengar bunyi “klik” atau “krek” pada rahang saat membuka mulut, menguap, atau mengunyah makanan? Kondisi ini mungkin terasa sepele, tetapi tidak sedikit orang yang khawatir karena menganggap rahangnya bermasalah.

Rahang berbunyi saat bergerak tidak selalu menandakan penyakit serius. Jika bunyi muncul tanpa rasa sakit dan tidak mengganggu pergerakan rahang, kondisi tersebut sering kali tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, jika disertai nyeri, rahang terasa kaku, atau mulut sulit dibuka, keluhan ini sebaiknya tidak diabaikan.

Contoh Kasus : Seorang pasien berusia 26 tahun menyadari rahangnya berbunyi “klik” setiap kali membuka mulut lebar atau mengunyah makanan. Awalnya, bunyi tersebut tidak menimbulkan rasa sakit sehingga pasien menganggapnya sebagai hal biasa.

Beberapa minggu kemudian, pasien mulai merasakan pegal di sekitar rahang dan pelipis, terutama saat bangun tidur. Setelah berkonsultasi dengan dokter gigi, pasien menjelaskan bahwa dirinya sering mengatupkan gigi ketika bekerja dan mengalami stres.

Dokter gigi kemudian melakukan pemeriksaan terhadap pergerakan rahang, otot di sekitarnya, dan kondisi gigi untuk mencari kemungkinan penyebab keluhan. Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan apakah keluhan berkaitan dengan gangguan sendi rahang, ketegangan otot, kebiasaan mengatupkan gigi, atau kondisi lain.

Lalu, apa penyebab rahang berbunyi dan kapan kondisi ini perlu diperiksakan ke dokter gigi? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Mengapa Rahang Bisa Berbunyi Saat Membuka Mulut?

Rahang bawah terhubung dengan tulang tengkorak melalui sendi yang disebut temporomandibular joint (TMJ). Sendi ini terletak di dekat telinga dan berperan penting saat kita berbicara, mengunyah, serta membuka dan menutup mulut.

Di dalam sendi tersebut terdapat cakram kecil yang membantu pergerakan rahang berlangsung dengan lancar. Perubahan gerakan cakram atau struktur sendi dapat menimbulkan bunyi klik atau letupan ketika rahang bergerak.

Bunyi rahang juga dapat berkaitan dengan gangguan sendi temporomandibular atau temporomandibular disorders (TMD). Namun, bunyi saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami TMD. Diagnosis perlu mempertimbangkan gejala lain dan hasil pemeriksaan.

2. Apa Saja Penyebab Rahang Berbunyi?

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan rahang berbunyi saat membuka atau menutup mulut, antara lain:

a. Pergerakan cakram sendi rahang

Cakram di dalam sendi rahang dapat bergerak tidak selaras dengan gerakan sendi. Akibatnya, muncul bunyi klik saat membuka atau menutup mulut. Kondisi ini tidak selalu disertai rasa sakit.

b. Kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi

Kebiasaan menggemeretakkan gigi (bruxism) atau mengatupkan gigi terlalu kuat dapat meningkatkan beban pada otot dan sendi rahang. Kebiasaan ini dapat terjadi saat tidur maupun ketika seseorang sedang berkonsentrasi atau mengalami stres.

c. Ketegangan otot rahang

Otot rahang yang tegang dapat menimbulkan rasa pegal, nyeri, atau tidak nyaman saat mengunyah dan membuka mulut. Stres dapat memperburuk ketegangan otot pada sebagian orang.

d. Kebiasaan membuka mulut terlalu lebar

Menguap terlalu lebar atau membuka mulut secara berlebihan dapat memicu bunyi atau rasa tidak nyaman pada sebagian orang, terutama jika sendi rahang memang sensitif.

e. Cedera pada rahang

Benturan atau cedera di area wajah dapat memengaruhi sendi rahang dan menyebabkan bunyi, nyeri, atau keterbatasan gerak.

Penyebab setiap orang bisa berbeda. Oleh karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah bunyi tersebut merupakan variasi gerakan sendi yang tidak berbahaya atau bagian dari suatu gangguan.

3. Rahang Berbunyi, Apakah Berbahaya?

Tidak selalu berbahaya. Jika rahang hanya berbunyi tanpa rasa sakit, tidak terasa terkunci, dan tetap dapat bergerak normal, kondisi tersebut umumnya tidak memerlukan perawatan khusus.

Namun, rahang berbunyi perlu mendapat perhatian jika disertai keluhan berikut:

  • Rahang terasa nyeri saat membuka mulut atau mengunyah.
  • Nyeri menjalar ke sekitar telinga, pelipis, atau wajah.
  • Mulut terasa kaku atau sulit dibuka lebar.
  • Rahang terkunci saat membuka atau menutup mulut.
  • Bunyi rahang disertai perubahan cara gigi atas dan bawah bertemu.
  • Keluhan semakin sering atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

Jika rahang tiba-tiba terkunci, tidak dapat ditutup kembali, atau keluhan muncul setelah cedera, segera cari pertolongan medis. Jangan mencoba memaksa atau mengembalikan posisi rahang sendiri.

4. Apakah Rahang Berbunyi Berarti Susunan Gigi Berantakan?

Belum tentu. Bunyi rahang tidak otomatis berarti susunan gigi tidak normal atau gigitan tidak tepat. Gangguan sendi rahang memiliki berbagai kemungkinan penyebab, dan penelitian tidak mendukung anggapan bahwa susunan gigitan yang buruk atau penggunaan behel secara umum pasti menyebabkan TMD.

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa seseorang membutuhkan perawatan ortodonti hanya karena rahangnya berbunyi. Dokter gigi perlu mengevaluasi kondisi gigi, gigitan, otot, dan sendi rahang secara menyeluruh sebelum menentukan perawatan yang sesuai.

Rahang berbunyi saat membuka mulut dapat terjadi akibat perubahan pergerakan sendi, ketegangan otot, kebiasaan mengatupkan gigi, atau faktor lainnya. Kondisi ini tidak selalu berbahaya, terutama jika tidak disertai nyeri dan keterbatasan gerak.

Namun, jika bunyi rahang disertai rasa sakit, rahang terkunci, sulit membuka mulut, atau keluhan yang semakin berat, jangan menunda pemeriksaan. Evaluasi sejak dini dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.

Jangan lupa periksa gigi setiap 6 bulan sekali di Sana Dental! Pemeriksaan rutin membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut. Jika Anda mengalami keluhan pada rahang, konsultasikan juga keluhan tersebut kepada dokter gigi agar dapat dievaluasi sesuai kondisi Anda.